JADILAH SEORANG IBU YANG HEBAT


SETIAP Wanita mempunyai impian yang sama untuk menjadi seorang ibu yang hebat kepada anak-anaknya. Untuk menjadi seorang ibu yang hebat bukanlah sesuatu yang mudah tetapi tidak ada yang mustahil dalam hidup ini.

Baru-baru ini saya menghadiri majlis Anugerah Ibu Mithali di Kuala Lumpur. Kata-kata seorang yang bergelar Ibu Mithali itu menyentuh dan menyeggarkan minda dan perasaan saya sebagai seorang ibu:-

Saya begitu tertarik dengan ketabahanya. Beliau benar-benar menjadi ibu yang hebat melihat dari perwatakannya ternyata beliau mempamerkan sifat yang tegas dan penyayang. Sikap menyayangi makhluk – binatang peliharaan katanya boleh memupuk kasih sayang di dalam diri anak-anak. Tanamkanlah sikap ini sedari kecil...

Untuk melayakan kita bergelar ibu yang hebat katanya “ kita haruslah menjadi seorang ibu yang baik yang mempunyai keyakinan yang tinggi untuk melakukan setiap amanah dan tanggungjawab sebagai seorang ibu agar boleh menjadi contoh kepada anak-anak...”

Hati saya tersentuh mendengar cerita bagaimana beliau membesarkan sebelas orang anaknya tanpa pembantu. Alhamdulillah!...semua anak-anaknya berjaya ke menara gading. Ada yang menjadi doktor perubatan, jurutera, ahli perniagaan dan pegawai kerajaan.

“Seorang ibu yang hebat mestilah rajin dan berani berkorban masa untuk menarik kesukaan anak-anak seperti memasak. Air tangan ibu cukup istimewa dan cara ini mudah bagi kita memenangi hati mereka dengan masakan yang istimewa...” tambahnya.

Rata-rata anak-anak kita meniru setiap perbuatan yang kita lakukan tak kira baik atau pun sebaliknya. Mereka menjadikan kita sebagai idola dari itu amalkan sikap yang baik agar boleh dicontohi dan diterapkan dalam diri mereka. Ini satu cara yang baik - memudahkan kita mendidik mereka jadi anak yang berguna...Insya Allah.

Jangan biarkan anak-anak duduk bersendirian, selalulah duduk dan bercerita bersama anak-anak tentang apa saja topik seperti kisah mereka kecil-kecil dulu ketika mereka mula berjalan atau hari pertama ke sekolah dan sebagainya, pastinya saat-saat itu sangat menarik dan menyeronokan.

Sedaya upaya jangan menabur janji kosong terhadap anak-anak. Jangan sekali-kali hampakan harapan mereka, penuhi segala janji dan kemahuan mereka..asalkan ia akan memberikan manfaat tak ada masalah tapi jika kita tidak mampu memenuhinya terangkan lah secara baik agar mereka boleh memahaminya.

Ibu yang hebat adalah ibu yang penyabar dan penuh kasih sayang –  Apa bila anak-anak menyayangi ibu mereka sudah pasti berusaha untuk mengembirakan hati kedua orang tua di suatu hari nanti. Hari ini kita menyayangi mereka hari esok lusa anak-anak pasti akan lebih menyayangi kita...Insya Allah!

Selalulah membawa anak-anak berjalan-jalan, luangkan waktu sekali-sekala.. sekurang-kurangnya kita boleh mengeratkan hubungan dan menghabiskan masa sambil memantau apa yang mereka lakukan.

Berikanlah pendidikan yang terbaik untuk anak-anak. Kalau boleh anak yang sulung biarlah dia berjaya agar dia menjadi  contoh dan ikutan kepada adik beradik yang lain. Sekiranya kita mampu apa salahnya kita berkorban untuk membiyayai perbelanjaan pendidikan yang terbaik untuk mereka. 

Jadilah ibu yang bermotivasi tinggi dalam mendidik, menolong dan memotivasikan anak-anak. Senantiasalah berminat, bersemangat, tekun dan sabar dalam menghadapi karenah anak-anak. Hala tuju mereka senantiasalah diawasi, gerak langkah mereka hendaklah diperhati.

Sebagai ibu semestinya memberi kebebasan kepada anak-anak memilih bidang atau pun kerjaya yang mereka minati. Jadilah kawan berbincang dengan anak-anak kita dan berilah mereka pendapat yang bernas yang menjuruskan anak-anak kepada pemilihan yang tepat yang bersesuaian dengan jiwa mereka.

Jadilah kawan yang boleh di bawa berbincang bersama anak-anak dan berilah suatu pendapat yang bernas yang menjuruskan anak-anak kepada pemilihan yang tepat tentang bidang yang sesuai untuk mereka pilih.

Ibu dan anak-anak harus bersama-sama membina satu pasukan untuk membina kemantapan institusi keluarga bermula dan keperluan hidup, makan –minum dan pakaian tersedia mengikut kadar kemampuan. Amalkan sikap kasih sayang, hormat menghormati, bantu membantu dan tidak mementingkan diri sendiri.

Jadilah ibu yang berfikiran terbuka untuk membina jalan ke arah masa depan anak-anak. Ajar mereka untuk membuat perancangan dengan disiplin yang ada. Amalkanlah situasi aman dalam membuat sebarangan keputusan tentang  pengagihan tugas dalam keluarga. Suburkan semangat tekun dan sabar dalam menghadapi segala ketermungkinan  yang akan mereka hadapi kelak.

Jangan biasakan anak-anak makan terlalu banyak. Tebiat ini tidak baik untuk perkembangan otak mereka. Berikan khidmat yang terbaik kepada anak-anak kita membesar dengan badan yang cerga dan otak yang cerdas jiwa yang mulia bersemangat waja untuk hidup.

Allah senantiasa melimpahkan rahmat terhadap kita. Ingatlah apa pun yang kita taburkan hari ini akan membuahkan hasil yang baik di suatu hari nanti. Percayalah takdir menentukan telah segala-galanya...”Kun Fayakun...”Apa yang dikehendaki  maka terjadilah – Yaasin – 82 itu janji Allah.

Sekian dulu semoga segala impian kita ingin menjadi ibu yang hebat akan membawa anak-anak kita senantiasa bertakwa kepada Allah, berdaya maju dan bersemangat demi menempuh hidup yang penuh cabaran. Amalkan sikap kasih antara satu dengan yang lain agar dapat memahatkan kekuatan institusi kekeluargaan yang mantap!
Leer completo...

Carilah Iman Yang Separuh Lagi

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim

Sahabat,

Ketika salah seorang sahabat bernama Ukaf bin Wida’ah al-Hilali menemui Rasulullah saw dan mengatakan bahwa ia belum menikah, beliau bertanya, “Apakah engkau sehat dan mampu?” Ukaf menjawab, “Ya, alhamdulillah.” Rasulullah saw bersabda, “Kalau begitu, engkau termasuk teman setan. Atau engkau mungkin termasuk pendeta Nasrani dan engkau bagian dari mereka. Atau (bila) engkau termasuk bagian dari kami, maka lakukanlah seperti yang kami lakukan, dan termasuk sunnah kami adalah menikah. Orang yang paling buruk diantara kamu adalah mereka yang membujang. Orang mati yang paling hina di antara kamu adalah orang yang membujang.” Kemudian Rasulullah saw menikahkannya dengan Kultsum al-Khumairi. (HR Ibnu Atsir dan Ibnu Majah)

Anas bin Malik ra berkata, telah bersabda Rasulullah saw, “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim)

Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabi saw tentang peribadatan beliau. Setelah mendapat penjelasan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata, “Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus.” Yang lain berkata, “Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya.” Ketika hal itu didengar oleh Nabi saw, beliau keluar seraya bersabda, “Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa diantara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ibnu Mas’ud ra pernah berkata, “Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah swt sebagai seorang bujangan.” (Ihya Ulumuddin hal. 20)

Dalam suatu kesempatan Imam Malik pernah berkata, “Sekiranya saya akan mati beberapa saat lagi, sedangkan istri saya sudah meninggal, saya akan segera menikah.” Demikian rasa takut pengarang kitab al-Muwatha’ ini kepada Allah kalau ia meninggal dalam keadaan membujang. (30 Pertunjuk Pernikahan dalam Islam, Drs. M. Thalib)

Lalu kenapa kita masih menahan diri untuk menikah? Pengalaman mengajarkan bahwa ternyata kita dapat menjadi semacam tempat penyalur rejeki (dari Allah) bagi orang-orang yang lemah diantara kita (istri dan anak-anak, bahkan orangtua dan mertua sekaligus). Itu dapat terjadi manakala kita telah buat keputusan untuk mengambil tanggung jawab atas mereka. Seakan-akan Allah mengatakan bahwa Dia akan membantu kita untuk mewujudkan setiap niat baik dan tangung jawab kita.

Allah swt menyukai orang-orang yang dapat ‘mewakili’-Nya dalam hal pembagian rejeki. Salah satu kesukaan-Nya adalah bahwa Dia akan berikan lebih banyak lagi rejeki kepada wakil-wakil-Nya agar hal itu dapat bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya yang ada dibawah tanggung-jawab mereka. Dan Allah (yang menyenangi orang-orang yang berbuat baik) menyukai mereka yang mengambil tanggung-jawab atas urusan-urusan yang disukai-Nya.

Percayalah bahwa ketika kita buat keputusan untuk menikah, itu berarti bahwa kita sedang menyenangkan Allah. Pada saat yang sama, kita menjadikan setan stress dan ‘uring-uringan’. Pada gilirannya nanti, Allah akan memperlihatkan bahwa hanya kepada-Nyalah semua makhluk bergantung dan mendapatkan rejekinya. Sementara itu, setan bekerja lebih keras lagi untuk menanamkan rasa takut terhadap segala resiko (yang mungkin timbul) dari pernikahan, sekaligus dia menampakkan ‘kebaikan-kebaikan’ hidup sendiri (membujang).

Bila kita menikah, padahal saat ini kita (misalnya) seperti ‘tulang punggung’ bagi keluarga orangtua, maka Allah yang maha pengasih dan maha penyayang tidak akan menambah berat beban yang harus kita pikul, bahkan Dia akan meringankannya melalui pernikahan. Nampaknya hal ini tidak bisa masuk akal, akan tetapi demikianlah ketetapan Allah dalam memelihara ciptaan-Nya. Akal kita memang sangat terbatas, bahkan sekedar untuk memahami ciptaan-Nya saja hamper-hampir kita tidak mampu.

Bila kita menikah, sedangkan kita tidak sedikitpun punya niatan untuk meninggalkan bakti kepada orangtua dan hubungan baik dengan sanak-saudara, niscaya Allah akan memberi jalan keluar bagi masalah-masalah yang mungkin timbul terhadap mereka. Segala sesuatu datang dari Allah dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Keadaan seberat apapun, pasti tidak akan menyusahkan-Nya sedikitpun dalam menyelesaikan masalah-masalah keseharian kita.

Bila kita menikah, maka kita akan (segera) masuk ke dalam orang-orang yang beruntung yang akan diakui sebagai ummat Rasulullah saw. Begitu besarnya perhatian Rasulullah saw akan hal nikah sehingga seseorang seperti Julabib, (maaf) yang punya wajah jelek, hitam, miskin dan tidak punya keberanian untuk nikah (karena keadaannya) pun ‘digesa’ dan didorong untuk menikah. Seakan Rasulullah marah kepada mereka yang sudah masuk dalam kategori layak nikah namun dia mengabaikannya.

Untuk itu, hendaknya tidak seorangpun merasa kecil hati dengan keadaannya saat ini. Banyak keadaan dimana orang-orang memandang bahwa keadaan kita jauh lebih baik daripada mereka. Barangkali orang-orang di luar kita tidak sepenuhnya memahami keadaan kita, akan tetapi pada kenyataannya memang selalu ada orang-orang yang posisinya jauh dibawah kita dan selalu ada orang-orang yang keadaannya lebih buruk daripada kita.

Lalu dari mana kita mulai? Orang-orang tua yang arif-bijaksana selalu mengingatkan agar kita selalu memperbaharui niat kita, menguatkannya hingga kita berazam untuk mewujudkan sesuatu yang kita hajatkan. Dengan ijin Allah, niat yang kuat (azam) akan dapat mengaktifkan fikir, menggerakkan anggota badan dan melibatkan segala sesuatu di sekitar kita untuk merealisasikan apa yang kita niatkan. Untuk perkara yang tidak baik saja Allah memberinya ijin, lalu bagaimana pula bila niat itu sesuatu yang Allah sukai?

Langkah selanjutnya adalah doa. Dengan menguatkan niat, doa kita akan terasa lebih berkesan. Ada masa-masa tertentu setiap hari ketika Allah merespon doa secara ‘cash’ (tunai). Tidak seorangpun tahu rahasia ini, sehingga orang yang bersungguh-sungguh (dengan urusan doa yang diijabah ini) tidak akan menyiakan masanya, sehingga tidak ada masa kecuali selalu dalam berhubungan dengan Sang pengijabah doa.

Langkah berikutnya, yakni seiring dengan doa yang sedang kita panjatkan, adalah ikhtiar. Kita boleh menyukai siapa saja, yang agama kita membenarkannya untuk kita menikahinya. Akan tetapi ketetapan pasangan kita adalah hak Allah. Kita boleh memilih dan memilah, tapi yakin kita adalah bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik buat kita. Allah mengetahui sedangkan kita tidak tahu kecuali sebatas pada apa yang diberitahukan-Nya kepada kita.

Bila kita menyukai seseorang untuk menjadi pasangan (suami atau istri) kita lalu hal itu sesuai dengan keinginan dan ilmu kita, akan tetapi Allah (dengan keluasan ilmu-Nya) tidak menghendakinya terjadi, maka pernikahan itu tidak akan dapat diwujudkan meski seluruh jin dan manusia membantu kita. Bila kita menyukai seseorang dan Dia sendiri telah menetapkannya untuk kita, maka pernikahan akan terwujud meskipun seluruh jin dan manusia menghalanginya.

Bila kita tidak suka kepada seseorang sedangkan Allah suka agar kita menyenangi dan menikahinya, ini adalah suatu pertanda bahwa Allah menyimpan banyak kebaikan yang (sebagian besarnya) dirahasiakan-Nya agar menjadi ‘surprise’ bagi kita pada saat yang ditentukan-Nya sendiri kelak, baik di dunia ataupun di akhirat. Dan kesukaan Allah yang lain adalah bahwa Dia mecurahkan kebaikan yang semakin bertambah dan berlipat kepada hamba-hamba yang diridhoi-Nya.

Dari banyak pengalaman, saat menjelang pernikahan (setelah kita buat keputusan untuk itu) adalah masa-masa yang sering dipenuhi dengan kecamuk ‘perang bathin’. Seolah ini adalah perang antara kebaikan dan keburukan. Bila kita terus maju dengan segala resikonya, kita akan menang lalu sampailah kita ke gerbang pernikahan. Sebaliknya, bila kita ragu dan menjadi terhalang dengan ‘hal-hal kecil’, kita akan kalah dan kita tidak akan sampai ke gerbang itu. Maka bila kita sudah buat keputusan, kita mesti buang jauh segala bentuk keraguan dan kita mesti belajar untuk menjadi tidak peduli dengan segala rintangan.

Subhanallah....

Leer completo...

Istidraj ~bila Kuasa Dan Kekayaan Untuk Maksiat

Istidraj (siri 2)

Assalamualaikum... Berbalik dari istidraj yang dijelaskan di artikel sebelumnya. Apabila seseorang yang tidak faham akan nikmat dan rahmat Allah SWT, bila dia memiliki kebesaran, dia akan menzalimi orang yang dibawahnya. Kekayaan  yg ada padanya digunakan bukan untuk kebaikan dirinya, tapi untuk berbuat maksiat kepada Allah SWT.
Manusia golongan ini telah terkeliru dgn fahaman mereka sendiri. Mereka tidak faham dan tidak dapat membezakan nikmat pemberian Allah kepada hamba-Nya  yg setia dengan manusia yang durhaka.

Ustaz Yazid Ja'far pernah ditanya oleh seorang mahasiswa: "ustaz, betulkah atau tidak, saya dengar ustaz bersyarah, ulama-ulama kalau besyarah, barang siapa yang mahu mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, hendaklah dulu mengikut jejak langkah Rasulullah  SAW dan berpegang teguh dengan agama  Islam. Betulkah ustaz?"

"Betul!"

"Minta maaflah ustaz, saya tidak berapa percaya. Sebab, apa yg saya lihat tidak begitu. Orang yang mengikut jejak langkah Rasulullah inilah yg paling teruk.

Dia kemudian menyebutkan beberapa contoh. Mak dan ayah saya, katanya, bukan sahaja sembahyang sehari semalam lima waktu, tapi tengah malam pun bangun sembahyang tahajjud. Rumah kami roboh juga. Puasa bukan puasa ramadan saja. Isnin mereka puasa, Khamis pun mereka puasa. Tapi kami makan, sebulan sekali, daging pun susah. Ayah saya, orang belum bang (azan) telah pergi ke masjid.

Begitu azab mak dan ayah saya yang berpegang teguh pada agama. Tetapi bapa saudara saya- adik mak saya, tidak pernah sembahyang seumur hidup. Puasa pun tak pernah. Kalau kita tanya, pak cik tak ingat mati? Bukan saya seorang saja yang mati katanya. Kalau masuk neraka pun ramai orang yang masuk. Dalam hidup kaya, hidup mewah. Kita yg sembahyang ini, hidup susah.

Tapi hendaklah kamu tahu tentang nikmat-nikmat Allah yg telah dikurniakan kepada makhluk-Nya. pemberian nikmat Allah kepada hamba-Nya (yg dikasihi-Nya) ialah pemberian yang diredhai-Nya, tapi pemberian nikmat Allah kepada manusia yang melakukan maksiat adalah pemberian yang tidak diredhai-Nya. Inilah yg dinamakan ISTIDRAJ.

Pemberian yg redha itu, seperti pemberian ayah kpd anaknya. Ketika sang ayah hendak sembahyang, penjual aiskrim lalu, anaknya merengek meminta dibelikan. Si ayah pun membelikannya kerana tidak mahu anaknya mengacau dia sembahyang. Dengan senyuman mesra diberikannya aiskrim itu dgn layanan yang baik. "Makanlah baik-baik nak, Jangan bising ayah nak sembahyang".

Kemudian baru sahaja hendak sembahyang, si anak menjerit minta tambah aiskrim lagi. Ayahnya naik darah. Dengan geram dibelikannya juga aiskrim itu kerana takut sembahyangnya tidak khusyuk. Tapi pemberian kali ini adalah pemberian yg tidak redha.

Begitu jugalah Allah SWT dengan kita, kadang-kadang manusia mendapat nikmat yang diredhai Allah dan kadang-kadang tidak. Rasulullah SAW bersabda:

"Apabila kamu melihat bahawa Allah Taala memberi nikmat kepada hamba-nya yg selalu membuat maksiat (durhaka) ketahuilah bahawa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah SWT." (diriwayatkan oleh At-Tabrani, Ahmad dan Al-Baihaqi.)

Tapi manusia durhaka yang terkeliru dengan pemikirannya berpendapat bahawa dengan nikmat yg datang mencurah dari Allah kepadanya itu, walaupun dia sentiasa berbuat maksiat, dia menyangka itu adalah satu bukti yang menunjukkan Allah kasih beserta dengan perbuatan maksiat mereka.

Wallahu a'alam bi shawab...

(secubit dari syarahan  Ustaz Yazid Jaafar)

~ bersambung di artikel seterusnya.. insya'Allah.. =)
Leer completo...

Istidraj ~ Nikmat yang tidak diredhai Allah.

Istidraj (siri 1)


Assalamualaikum...
Apakah yang dimaksudkan dengan istidraj itu? patutkah atau tidak kita jauhi istidraj? Inilah yang akan ana terangkan serba sedikit melalui penulisan risalah Ustaz Yazid Jaafar. Tajuk ini amatlah penting, terutamanya bagi anak-anak muda kita supaya jangan mudah terkeliru dengan istilah ringkas ini.


Pemikiran kebanyakan umat Islam di zaman pembangunan ini nampaknya semakin jelas kelihatan jauh menyimpang  dari pemikiran Islam di zaman silam. Pemikiran manusia di zaman yang seba maju ini telah dihanyutkan dan dikuasai oleh arus keadaan dan diselaputi oleh kebendaan.


Inilah sebabnya kita lihat masayarakat hari ini berbeza dgn masayarakat dulu. Masyarakat hari ini? Dia lebih banyak terpengaruh dengan apa yang ada; dengan suasana sekelilingnya. Dia tidak memandang jauh seperti mana orang-orang dulu. Padahal mereka tidak belajar tingi-tinggi hingg ke universiti. Kita sekarang cerdik, ada ijazah, tidak kejam untuk ana ungkapkan, tapi bodoh.


Manusia tersebut telah tertipu dengan kekuasaan, pangkat kebesaran dan kekayaan yang diperolehinya. Lantas mereka tidak faham lagi dengan nikmat Allah.


Dan Jika dia berkuasa, dia gunakan kekuasaanya itu untuk menindas bawahannya kerana dia tidak tahu menggunakan nikmat kekuasaan yang ada padanya. Dia tidak faham tentang nikmat dah rahmat Allah SWT...


Wallahu a'lam bi shawab..  


bersambung di artikel seterusnya..insya'allah..=)
Leer completo...

Teman seperjuangan..