Berakhirnya Umur Dunia

 Matinya Tiap-Tiap Yang Bernyawa Apakala Berakhir Umur Dunia Kemudian Semuanya Dihidupkan Semula...


Sebagaimana manusia berada di dunia ini hanya untuk suatu masa yang tertentu kemudian berpindahlah ia ke satu alam yang kekal abadi,  maka alam dunia ini dengan segala langit dan buminya pun akan habis tempohnya pada suatu masa yang tertentu dan ditukar menjadi satu alam yang tidak berkesudahan, segala yang ada padanya kekal abadi sama ada nikmat kesukaan orang mukmin mahu pun azab kedukaan orang kafir. 

Hakikat ini diterangkan oleh Allah Taala dengan firman-Nya, yang bermaksud: 

"Kehidupan dunia ini hanya kesukaan dan kesenangan sementara, dan alam akhirat sahajalah tempat kediaman yang kekal abadi. "(39 surah Ghafir).

"Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih, kami akan masukkan mereka ke dalam Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. ..." (57, Surah al-Nisa').

Dan sesiapa yang menderhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya disediakan baginya Neraka Jahanam mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. " (23 Surah al-Jin).
Dengan berakhirnya umur dunia ini,  timbullah saat permulaan qiamat yang tidak diketahui masanya melainkan Allah,  tetapi tanda-tanda hampirnya kedatangan saat itu ada diterangkan oleh Rasulullah s.a.w., dalam beberapa hadis yang sebahagian daripadanya telah pun disebutkan pada huraian hadis yang ke 13, bab yang kelima, dalam "Muqaddimah Mastika Hadith" dahulu, manakala sebahagian daripadanya ialah hadis-hadis yang berikut:

77- عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ بْنُ لُكَعٍ. (الترمذي والإمام أحمد)

77- Dari Huzaifah r.a., dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Tidak akan berlaku saat qiamat sehingga orang yang tidak tentu saka bakanya, yang buruk akhlaknya dan yang bodoh bebal, menjadi sebahagia-bahagia manusia dengan kesenangan dunia. "
Leer completo...

NABI MODEL PENDIDIK

Sewajarnya bagi setiap orang yang menjadi pembimbing dan pendidik manusia mempunyai sifat-sifat yang sesuai dengan peranan yang dilakukan. 

Dalam konteks ini, tidak ada di sepanjang zaman seorang manusia pun yang mempunyai atau menghampiri ciri-ciri kesempurnaan akhlak sebagaimana yang dimiliki oleh Rasulullah SAW sehingga mendapat pujian unggul daripada Allah SWT sebagaimana firmannya: Dan bahawa sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) mempunyai akhlak Yang amat mulia. (al-Qalam :4) 

Kesempurnaan yang dimiliki oleh Rasulullah SAW adalah sifat-sifat yang seharusnya ada pada seorang pendidik dan boleh diperincikan kepada empat perkara iaitu kesempurnaan kejadian, kesempurnaan akhlak, kelebihan kata-kata dan kelebihan perbuatan. 

Leer completo...

THE QUESTION OF HIJAB: SUPPRESSION OR LIBERATION


"Why do Muslim women have to cover their heads?" This question is one which is asked by Muslim and non-Muslim alike. For many women it is the truest test of being  Muslim.
 
The answer to the question is very simple - Muslim women observe HIJAB (covering the head and the body) because Allah has told them to do so.
 
"O Prophet, tell your wives and daughters and the believing women to draw their outer garments around them (when they go out or are among men). That is better in order that they may be known (to be Muslims) and not annoyed..." (Qur'an 33:59)
 
Other secondary reasons include the requirement for modesty in both men and women. Both will then be evaluated for intelligence and skills instead of looks and sexuality. An Iranian school girl is quoted as saying, "We want to stop men
from treating us like sex objects, as they have always done. We want them to ignore our appearance and to be attentive to our personalities and mind. We want them to take us seriously and treat us as equals and not just chase us around for our bodies and physical looks."
 
A Muslim woman who covers her head is making a statement about her identity. Anyone who sees her will know that she is a Muslim and has a good moral character. Many Muslim women who cover are filled with dignity and self esteem; they are
pleased to be identified as a Muslim woman. As a chaste, modest, pure woman, she does not want her sexuality to enter into interactions with men in the smallest degree. A woman who covers herself is concealing her sexuality but allowing her femininity to be brought out.
 
The question of hijab for Muslim women has been a controversy for centuries and will probably continue for many more. Some learned people do not consider the subject open to discussion and consider that covering the face is required, while a majority are of the opinion that it is not required. A middle line position is taken by some who claim that the instructions are vague and open to individual discretion depending on the situation. The wives of the Prophet (S) were required to cover their faces so that men would not think of them in sexual terms since they were the "Mothers of the Believers," but this requirement was not extended to other women.
Leer completo...

Women of al-Jannah



We hear often speakers in Friday prayer talking about Paradise and all of us find their hearts, minds and thoughts tuned on that "frequency". However, the speakers in their majority talk about Paradise as if it were a house for men only. Reality is not like that. Paradise is for believers men and women. The only price for it is belief in Allah, Love of Allah and His Messenger, and obedience to Allah and His Messenger.
In what follows are the glad tidings given by the Messenger of Allah, salla Allahu alaihi wa sallam, to three women among his companions.


Narrated 'Aisha:
I did not feel jealous of any of the wives of the Prophet as much as I did of Khadija (although) she died before he married me, for I often heard him mentioning her, and Allah had told him to give her the good tidings that she would have a palace of Qasab (i.e. pipes of precious stones and pearls in Paradise), and whenever he slaughtered a sheep, he would send her women-friends a good share of it. [al-Bukhari]


Narrated Ismail:
I asked 'Abdullah bin Abi Aufa, "Did the Prophet give glad tidings to Khadija?" He said, "Yes, of a palace of Qasab (in Paradise) where there will be neither any noise nor any fatigue."[al-Bukhari]
Narrated Abu Huraira:
Jibreel (Gabriel) came to the Prophet and said, "O Allah's Apostle! This is Khadija coming to you with a dish having meat soup (or some food or drink). When she reaches you, greet her on behalf of her Lord (i.e. Allah) and on my behalf, and give her the glad tidings of having a Qasab palace in Paradise wherein there will be neither any noise nor any fatigue (trouble) . " [al-Bukhari]


Narrated 'Ata bin Abi Rabah:
Ibn 'Abbas said to me, "Shall I show you a woman of the people of Paradise?" I said, "Yes." He said, "This black lady came to the Prophet and said, 'I get attacks of epilepsy and my body becomes uncovered; please invoke Allah for me.' The Prophet said (to her), 'If you wish, be patient and you will have (enter) Paradise; and if you wish, I will invoke Allah to cure you.' She said, 'I will remain patient,' and added, 'but I become uncovered, so please invoke Allah for me that I may not become uncovered.' So he invoked Allah for her." [al-Bukhari]


Narrated Jabir bin Abdullah:
The Prophet said, "I saw myself (in a dream) entering Paradise, and behold! I saw Ar-Rumaisa', Abu Talha's wife. I heard footsteps. I asked, Who is it? Somebody said, 'It is Bilal ' Then I saw a palace and a lady sitting in its courtyard. I asked, 'For whom is this palace?' Somebody replied, 'It is for 'Umar.' I intended to enter it and see it, but I thought of your ('Umar's) Ghira (and gave up the attempt)." 'Umar said, "Let my parents be sacrificed for you, O Allah's Apostle! How dare I think of my Ghira (self-respect) being offended by you? [al-Bukhari]
Leer completo...

17 dalil (Tiada Nabi setelah Muhammad. )

1.  QS AL AHZAB 40: " Bukanlah Muhammad itu bapak salah
    seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah
    Rasulullah dan penutup Nabi-nabi"

2.  Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu
    Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

    "Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang
    yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan
    membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di
    salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan
    mereka ta'juk lalu berkata: 'kenapa kamu tidak taruh batu
    ini.?' Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup
    Nabi-nabi"

3.  Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut'im RA
    bahwa Nabi SAW bersabda:

    "Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya
    Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan kekafiran
    karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di
    kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya"
    
4.  Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil,
    bersabda Nabi Muhammad SAW:
    
    "Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan
    saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku"

5.  Khutbah terakhir Rasulullah ...

    " ...Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan
    datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir.
    Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan
    pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku
    tinggalkan dua hal: Al Quran dan Sunnah, contoh-contoh
    dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah
    tersesat ..."

6.  Rasulullah SAW menjelaskan: "Suku Israel dipimpim oleh
    Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi
    lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan datang
    sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku
    (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).
    
7.  Rasulullah SAW menegaskan: "Posisiku dalam hubungan
    dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan
    dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah
    bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung,
    tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat
    sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat
    sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya,
    tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang
    dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan
    aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi". (Bukhari,
    Kitab-ul-Manaqib).
    
8.  Rasulullah SAW menyatakan: "Allah telah memberkati aku
    dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi
    terdahulu: - Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif
    dan sempurna. - Aku diberi kemenangan kare musuh gentar
    menghadapiku - Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. -
    Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga
    telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam
    agamaku, melakukan shalat tidak  harus di suatu tempat
    ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di  atas
    bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk
    berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya
    dengan tanah jika air untuk mandi langka. - Aku diutus Allah
    untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. - Dan
    jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat
    Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah)
    
9.  Rasulullah SAW menegaskan: "Rantai Kerasulan dan Kenabian
    telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan
    nabi sesudahku". (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab
    Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).
    
10. Rasulullah SAW menjelaskan: 'Saya Muhammad, Saya Ahmad,
    Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku;
    Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat
    yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah
    satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah
    Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang
    sesudahku". (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada'il, Bab
    Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi;
    Muatta', Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim,
    Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).
    
11. Rasulullah SAW menjelaskan: "Allah yang Maha Kuasa tidak
    mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak
    memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal
    (Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam masa
    mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi dan
    kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu
    saat, Dajjal akan datang dari antara kamu". (Ibnu Majah,
    Kitabul Fitan, Bab Dajjal).
    
12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: "Saya mendengar
    Abdullah bin 'Amr ibn-'As menceritakan bahwa suatu hari
    Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung dengan
    mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah beliau
    akan meninggalkan kita. Beliau berkata: "Aku Muhammad, Nabi
    Allah yang buta huruf", dan mengulangi pernyataan itu tiga
    kali. Lalu beliau menegaskan: "Tidak ada lagi Nabi
    sesudahku". (Musnad Ahmad, Marwiyat 'Abdullah bin 'Amr
    ibn-'As).
    
13. Rasulullah SAW berkata: " Allah tidak akan mengutus Nabi
    sesudahku, tetapi hanya Mubashirat". Dikatakan, apa yang
    dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang
    baik atau visi yang suci". (Musnad Ahmad, marwiyat Abu
    Tufail, Nasa'i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada
    kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang.
    Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah,
    dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci).
    
14. Rasulullah SAW berkata: "Jika benar seorang Nabi akan
    datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin Khattab".
    (Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib).
    
15. Rasulullah SAW berkata kepada 'Ali, "Hubunganmu denganku
    ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada
    Nabi yang akan datang sesudahku". (Bukhari dan Muslim, Kitab
    Fada'il as-Sahaba).
    
16. Rasulullah SAW menjelaskan: "Di antara suku Israel
    sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang berkomunikasi
    dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada
    satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan
    Allah, orangnya tidak lain daripada Umar. (Bukhari,
    Kitab-ul-Manaqib)
    
17. Rasulullah SAW berkata: "Tidak ada Nabi yang akan datang
    sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat lain pengikut
    nabi baru apapun". (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani)
Leer completo...

Penjelasan Tentang Unsur-unsur yang Menciptakan Hakikat Taubat



Dari penuturan Al Gazhali dan ulama lainnya dapat ditarik pengertian: bahwa hakikat taubat yang diperintahkan Allah SWT bagi seluruh kaum mu'minin agar mereka beruntung, serta memerintahkan agar mereka bertaubat dengan taubat nasuha, terdiri dari beberapa unsur dan faktor yang tiga itu: tersusun secara berurutan satu sama lain. Seperti dijelaskan oleh Al Ghazali.


1. Unsur pengetahuan dalam taubat

Unsur atau faktor pertama dari unsur-unsur itu adalah unsur pengetahuan. Yang tampak dalam pengetahuan manusia akan kesalahannya dan dosanya ketika ia melakukan kemaksiatan kepada Rabbnya, serta matanya terbuka sehingga ia dapat melihat kesalahannya itu, melepaskan sumbatan dari telinganya sehingga ia dapat mendengar, dan mengusir kegelapan dari akalnya sehingga ia dapat berpikir, dalam setiap kesempatan kembalinya diri kepada fithrahnya. Saat itu ia akan mengetahui keagungan Rabbnya, kemuliaan maqam-Nya dan kebesaran hak-Nya. Juga mengetahui kekurangan dirinya, mengapa ia mengikuti syaitan, serta kerugiannya yang jelas di dunia dan akhirat jika ia terus berjalan mengikuti perilaku Iblis dan tentaranya.


Saat itu, manusia butuh untuk memusatkan pikirannya, menggunakan akalnya, serta merenungi dengan dalam tentang dirinya dan apa yang berada di sekelilingnya, nilai-nilai yang ia miliki, perjalanan dirinya, akhir perjalanannya kemana, makna kehidupannya, kematian dan apa setelah kematiannya, tentang ni'mat Allah yang demikian besar baginya, sikapnya terhadap ni'mat-ni'mat itu, tentang ni'mat Allah yang terus turun kepadanya, dan kejahatan dirinya akan dilaporkan kepada Allah. Allah SWT akan menghidupkan cintanya dengan memberikan ni'mat kepadaanya walaupun Allah SWT tidak butuh kepadanya. Ia mendorong kemarahan Allah dengan melakukan maksiat, sedangkan ia adalah orang yang amat membutuhkan Allah, dan Allah tidak menutup pintu-Nya bagi hamba-hambaNya, meskipun mereka telah melampaui batas terhdap diri mereka sendiri, dan Allah terus memanggil mereka:
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya". (QS. az-Zumar: 53)
Kesadaran jiwa adalah pangkal pertama bagi bangunan taubat. Dialah yang akan mendorong hati untuk menyesal, kemudian bertekad untuk meninggalkan dosa itu, lidahnya beristihgfar, kemudian tubuhnya mencegah dari melakukan dosa itu.
Inilah yang diperingatkan oleh Al Quran dalam firman Allah SWT:
"Dan orang -orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur'an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya" (QS. al Hajj: 54.). Dengan runtutan ini yang ditunjukkan oleh hurup sambung "fa".
Leer completo...

UNSUR-UNSUR TAUBAT


Terma dari akar kata "t-w-b" dalam bahasa Arab menunjukkan pengertian: pulang dan kembali. Sedangkan taubat kepada Allah SWT berarti pulang dan kembali ke haribaan-Nya serta tetap di pintu-Nya.
Karena pada dasarnya manusia harus bersama Allah SWT dan selalu berhubungan dengan-Nya, dan tidak menjauhi-Nya. Manusia tidak dapat membebaskan diri dari Allah SWT untuk memikirkan kehidupan fisiknya saja, juga tidak dapat membebaskan dirinya dari Allah SWT karena memikirkan kebutuhan hidup ruhaninya saja. Bahkan kebutuhannya kepada Allah SWT di akhirat akan lebih besar dari kebutuhannya di dunia. Karena kehidupan dan kebutuhan fisik itu secara bersamaan juga dilakukan oleh binatang yang tidak dapat berpikir, sementara kebutuhnan ruhani adalah sisi yang menjadi ciri pembeda manusia dari hewan dan binatang.


Allah SWT telah menciptakan manusia dari dua unsur. Di dalam tubuhnya terdapat unsur tanah, juga unsur ruh. Inilah yang menjadikannya layak dijadikan objek sujud oleh malaikat sebagai penghormatan dan pemuliaan kedudukannya. Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." QS. Shaad: 71-72..
Allah SWT tidak memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam kecuali setelah Allah SWT memperbagus bentuknya dan meniupkan ruh ke dalam tubuhnya.


Ketika manusia ta'at kepada Rabbnya berarti tiupan ruh itu mengalahkan sisi tanahnya. Atau dengan kata lain, sisi ruhani mengalahkan sisi materi. Dan sisi Rabbani mengalahkan sisi tanah yang rendah. Maka manusia meningkat dan mendekat kepada Rabbnya, sesuai dengan usahanya untuk meningkatkan sisi ruhaninya ini.
Leer completo...

Taubat dalam Sunnah NABI SAW




Dalam sunnah Nabi Saw, kita banyak menemukan hadits-hadits yang mengajak kita untuk bertaubat, menjelaskan keutamaannya, dan mendorong untuk melakukannya dengan berbagai cara. Hingga Rasulullah Saw bersabda:
"Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah SWT, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah SWT dalam satu hari sebanyak seratus kali". (Hadits diriwayatkan oleh Muslim dari Al Aghar al Muzni.)
Aku cukupkan dengan menyebut beberapa hadits yang disebutkan oleh hafizh al Mundziri dalam kitabnya "at-Targhib wa Tarhib", dan aku sebutkan hadits-hadits yang paling penting dari hadits-hadits itu dalam kitabku: "al Muntaqa min at Targhib wa Tarhib".
Dari Abi Musa r.a. diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Sesungguhnya Allah SWT membuka "tangan"-Nya pada malam hari untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada siang hari, dan membuka "tangan"-Nya pada siang hari, untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada malam hari, (terus berlangsung demikian) hingga (datang masanya) matahari terbit dari Barat (kiamat)". Hadits diriwayatkan oleh an-Nasaai.
Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Jika kalian melakukan dosa hingga dosa kalian sampai ke matahari, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan mengampuni kalian". Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang baik. (Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Az Zuhd (4248), dan dalam kitab az Zawaid diterangkan: ini adalah isnad hasan.).
Dari Jabir r.a. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:
"Di antara kebahagiaan manusia adalah, panjang usianya, dan Allah SWT memberikan rezeki taubat kepadanya".
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hakim. Dan ia berkata: isnad hadits ini sahih. (Penilaian Al Hakim ini disetujui oleh Adz Dzahabi (4/240) dan Al Haitsami menyebutkan sebagian hadits ini dan berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Al Bazzar, dan sanadnya adalah hasan (10/203).).
Dari Abi Sa'id al Khudri r.a. dari Nabi Saw beliau bersabda:
"Perumpamaan orang mu'min dan iman adalah seperti kuda dalam kandang (ikatan) nya, ia berjalan sebentar ke luar untuk kemudian kembali ke kandang (ikatan) nya . Dan seorang mu'min dapat lalai dan melakukan kesalahan namun kemudian ia kembali kepada keimanannya. Maka berikan makanan kalian kepada kaum yang bertakwa, dan kaum mu'minin yang baik". Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam sahihnya. (Yaitu dalam al Mawaarid (2451), dan diriwayatkan pula oleh Ahmad dan Abu Ya'la seperti dikatakan oleh al Haitsami, dan para periwayatnya adalah sahih, selain Abi Sulaiman al Laitsi, dan Abdullah bin al Walid at Tamimi, keduanya adalah tsiqat (10/201).).
Leer completo...

Taubat dari Dosa-dosa Besar




Sebagaimana Al Quran menyebutkan taubat dari kemusyrikan dan kemunafikan, Allah SWT juga menyebutkan taubat dari dosa-dosa besar. Seperti membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah SWT kecuali dengan haknya. Juga zina yang Allah SWT cap sebagai jalan yang buruk dan kotor. Dan al Quran menggolongkan kedua perbuatan dosa besar ini dalam kelompok dosa yang paling besar setelah syirik. Allah SWT berfirman tentang sifat ibadurrahman.
"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al Furqan: 68-70)
Tampak banyak ayat-ayat berbicara tentang iman setelah taubat, dan menyambung antara keduanya. Seperti terdapat dalam ayat ini. Firman Allah SWT:
"Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung." (QS. al Qashash: 67). Serta firman Allah SWT setelah menyebutkan beberapa Rasul-Nya dan nabi-nabi-Nya serta para pengikut mereka yang saleh, yang apabila dibacakan kepada mereka ayat Al Quran mereka segera tunduk sujud dan menangis. Kemudian Allah SWT berfirman:"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun." (QS. Maryam: 59-60)

Leer completo...

Larangan Melecehkan Ajaran Nabi



Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Berikut adalah penjelasan tentang pentingnya mengagungkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beberapa kisah yang menunjukkan siksaan mengerikan bagi orang yang menghina dan melecehkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat.
Marilah Mengagungkan Ajaran Nabi
Kita dapat melihat dalam beberapa ayat telah dijelaskan mengenai pentingnya menaati dan mengagungkan ajaran (petunjuk) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam serta bahaya meninggalkannya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
Barang siapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An Nisa’ 4: 80)
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An Nur 24: 63)
وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An Nur 24: 54)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (1) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2)


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu , sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujuraat 49: 2). Ibnu Katsir rahimahullahmengatakan, “Ini adalah adab yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya yang beriman ketika berinteraksi dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu hendaklah mereka menghormati dan mengagungkannya.”
Leer completo...

Menjauhi Tujuh Dosa Besar


Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

”Jauhilah diri kamu daripada tujuh dosa yang boleh membinasakan.Baginda ditanya:”Apakah dosa itu wahai Rasulullah?” Baginda berkata:" Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah melainkan dengan jalan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan pertempuran perang dan menuduh perempuan yang suci melakukan zina.”
 
(Riwayat Muslim)


1. Terdapat tujuh dosa besar yang dilaknat oleh Allah SWT terhadap sesiapa yang melakukannya iaitu:

i. Syirik kepada Allah- iaitu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain seperti mempercayai perkara-perkara khurafat, memuja hantu syaitan dan sebagainya.
ii. Sihir
iii. Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah melainkan dengan jalan yang benar seperti untuk mempertahankan diri atau menegakkan hukum Allah (menjalankan hukuman keadilan)
iv. Memakan harta anak yatim
v. Memakan riba
vi. Lari dari medan pertempuran
vii. Menuduh perempuan yang suci melakukan zina.


2. Setiap mukmin hendaklah berusaha agar bebas dan selamat daripada melanggar hak saudaranya apalagi hak anak-anak yatim yang diamanahkan untuk dijaga dengan baik. Seseorang yang telah menghkianati amanah tersebut hendaklah ia mengembalikannya atau meminta untuk dihalalkan. 

3. Orang yang telah melakukan dosa hendaklah bertaubat dengan taubat nasuha dan meminta ampun kepada Allah kerana pintu taubat sentiasa terbuka sampai terbitnya matahari dari barat. 

Leer completo...

Wanita Kurang Agama Dan Akal


Dari Abdullah bin Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w telah bersabda: 

“Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kamu dan perbanyakkanlah istighfar iaitu memohon ampun. Kerana aku melihat kaum wanitalah yang lebih ramai menjadi penghuni Neraka.” 

Seorang wanita yang cukup pintar di antara mereka bertanya:
 “Wahai Rasulullah, kenapa kami kaum wanita yang lebih ramai menjadi penghuni Neraka?

Rasulullah S.A.W bersabda: 
“Kamu banyak mengutuk dan mengingkari suami. Aku tidak melihat mereka yang kekurangan akal dan agama yang lebih menguasai pemilik akal, daripada golongan kamu.
 
Wanita itu bertanya lagi: 
“Wahai Rasulullah! Apakah maksud kekurangan akal dan agama itu? 

Rasulullah s.a.w bersabda: 
“Maksud kekurangan akal ialah penyaksian dua orang wanita sama dengan penyaksian seorang lelaki. Inilah yang dikatakan kekurangan akal. Begitu juga wanita tidak mendirikan sembahyang pada malam-malam yang dilaluinya kemudian berbuka pada bulan Ramadhan kerana haid. Maka inilah yang dikatakan kekurangan agama”

(Muslim)



Wanita dari asal kejadiannya ( fitrahnya ) memang telah diciptakan berlainan dan berbeza dengan lelaki, adanya kelainan atau perbezaan itu tentu ada maksud dan tujuannya yang tertentu. 
Lemahnya agama bagi golongan wanita tidak harus dijadikan alasan untuk memadamkan semangat dalam beribadah kerana pada saat seseorang perempuan itu haid atau nifas di mana mereka tidak dapat menjalankan ibadah solat dan puasa, mereka sebenarnya masih mampu menjalankan amal ibadah lain yang berpahala yang dapat mendekatkan diri pada Allah, kecuali sebaliknya iaitu jika mereka melibatkan diri dalam perbuatan yang mendatangkan dosa dan segala sesuatu yang dapat melalaikan bahkan menjauhkan diri daripada Allah. 
Manakala perempuan dikatakan kurang (lemah) akalnya kerana fikiran mereka mudah sekali terpengaruh, tertipu dan terpedaya kerana mereka dikurniakan dengan banyak nafsu dan lazimnya mereka tidak berfikir lebih panjang dan bersifat emosional. 
Oleh itu dalam hal pengadilan Islam lebih mengutamakan lelaki. Tetapi dalam hal yang lain, Islam sama sekali tidak menolak akan hakikat ketajaman pemikiran golongan wanita yang mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan kaum lelaki. Hanya sesungguhnya yang membezakan antara makhluk Allah S.W.T, tidak lain hanyalah nilai ketaqwaan mereka.
Leer completo...

Nasihat Buat Pendakwah


Dari Usamah bin Zaid r.a bahawa ia pernah mendengar Nabi SAW bersabda 

“Pada hari kiamat kelak seseorang itu akan dicampakkan ke dalam neraka, maka keluarlah ususnya dan dia berputar-putar seperti seekor keldai mengelilingi batu kisaran. Para penghuni neraka lainnya pun menghampirinya dan bertanya:”Wahai saudara, mengapa ini semua terjadi? Bukankah saudara adalah orang yang pernah menyuruh kepada-perkara makruf (kebaikan) dan mencegah perkara-perkara yang mungkar (kejahatan)?” Maka ia menjawab:”Benar, akulah yang pernah menyuruh kamu berbuat makruf dan melarang kamu berbuat kemungkaran, tetapi aku sendiri yang melanggarnya.”

(Bukhari & Muslim)




berdakwah lah kerana Allah SWT....

1. Dalam usaha membina individu dan mendidik masyarakat, Islam amat mementingkan ketinggian akhlak seperti benar dalam percakapan dan tindakan, penuh rasa tanggungjawab (amanah), menepati janji, toleransi, pemaaf, penyantun dan sebagainya.





2. Seorang pendakwah itu hendaklah mendahulukan contoh perbuatannya daripada ucapannya kerana dakwah melalui perangai atau akhlak yang baik (qudwah hasanah) merupakan media yang paling efektif kepada masyarakat yang akan menjadikannya sebagai contoh (idola) untuk diikuti.




3. Sesungguhnya orang yang pernah menyuruh orang lain berbuat baik sementara dirinya sendiri melanggarnya adalah orang yang bakal menempuh siksaan yang amat berat di hari akhirat kelak. Keadaanya samalah seperti ‘ketam yang mengajar anaknya berjalan lurus ‘. Oleh itu hiasilah diri dengan akhlak yang terpuji, penampilan yang baik, etika pergaulan yang bersopan dan sifat-sifat mulia yang lain supaya tidak tergolong di kalangan orang-orang yang ‘cakap tak serupa bikin’!.
Leer completo...

Teman seperjuangan..