My Beauty within me......


When you look at me
All that you can see
is the scarf that covers my hair
My words you can't hear
because you're too full of fear,
mouth gaping, all you do is stare
You think it's not my choice
in your own "liberation" rejoice.
You think I'm uneducated,
trapped, oppressed and subjugated,
You're so thankful that you're free.
But non-Muslim woman you've got it wrong
You're the weak and I'm the strong.
For I've rejected the trap of man.
Fancy clothes - low neck, short skirt
those are devices for pain and hurt.
I'm not falling for that little plan.
I'm a person with ideas and thought.
I'm not for sale, I can't be bought.
I'm me - not a fancy toy,
I won't decorate anyone's arm,
nor be promoted for my charm.
There is more to be than playing coy.
I am a Muslim woman with proudness and happiness
I won't let go of my hopes
I am a Muslim woman with care and love.
Leer completo...

Impian seorang Muslimah



Mampukah aku menjadi seperti Khatijah?
Agung cintanya pada Allah dan Rasulullah
Hartanya diperjuangkan ke jalan fisabilillah
Penawar hati kekasih Allah
dan senang rela bersama…
Susah
Dapatkah ku didik jiwa seperti Aishah?
Isteri Rasulullah yang bijak
Pendorong kesusahan dan penderitaan
Tiada sukar untuk dilaksanakan…
Mengalir air mataku
Melihat pegorbanan puteri solehah Fatimah
Akur dalam setiap perintah
Taat dengan ayahnya, yang sentiasa berjuang
Tiada memiliki harta dunia
Layaklah dia sebagai wanita penghulu syurga…
Ketika aku marah
Inginku intip serpihan sabar
Dari catatan hidup Sarah….
Tabah jiwaku
Setabah umi Nabi Ismail
Mengendong bayinya yang masih merah
Mencari air penghilang dahaga
Di terik padang pasir merak
Ditinggalkan suami akur tanpa bantah
Pengharapannya hanya pada Allah
Itulah wanita Hajar….
Mampukah aku menjadi wanita solehah?A
Mati dalam keunggulan iman
Bersinar indah, harum tersebar
Bagai wanginya pusara Masyitah….
Leer completo...

Wanita Yang Teguh Menggenggam Tauhid


Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam “Tauhid.” “
Alkisah di negeri Mesir, Fir’aun terakhir yang terkenal dengan keganasannya bertahta. Setelah kematian sang isteri, Fir’aun kejam itu hidup sendiri tanpa pendamping. Sampai cerita tentang seorang gadis jelita dari keturunan keluarga Imran bernama Siti Asiah sampai ke telinganya. Fir’aun lalu mengutus seorang Menteri bernama Haman untuk meminang Siti Asiah.
Orangtua Asiah bertanya kepada Siti Asiah, “Sudikah anakda menikahi Fir’aun ?”
“Bagaimana saya sudi menikahi Fir’aun. Sedangkan dia terkenal sebagai raja yang ingkar kepada Allah ?”
Haman kembali pada Fir’aun. Alangkah marahnya Fir’aun mendengar kabar penolakan Siti Asiah.
“Haman, berani betul Imran menolak permintaan raja. Seret mereka kemari. Biar aku sendiri yang menghukumnya !”
Fir’aun mengutus tentaranya untuk menangkap orangtua Siti Asiah. Setelah disiksa begitu keji, keduanya lantas dijebloskan ke dalam penjara. Menyusul kemudian, Siti Asiah digiring ke Istana. Fir’aun kemudian membawa Siti Asiah ke penjara tempat kedua orangtuanya dikurung. Kemudian, dihadapan orangtuanya yang nyaris tak berdaya, Fir’aun berkata, “He, Asiah. Jika engkau seorang anak yang baik, tentulah engkau sayang terhadap kedua orangtuamu. Oleh karena itu, engkau boleh memilih satu diantara dua pilihan yang kuajukan. Kalau kau menerima lamaranku, berarti engkau akan hidup senang, dan pasti kubebaskan kedua orangtuamu dari penjara laknat ini. Sebaliknya, jika engkau menolak lamaranku, maka aku akan memerintahkan para algojo agar membakar hidup-hidup kedua orangtuamu itu, tepat dihadapanmu.”
Karena ancaman itu, Siti Asiah terpaksa menerima pinangan Fir’aun. Dengan mengajukan beberapa syarat, yaitu Fir’aun harus membebaskan orangtuanya, Fir’aun harus membuatkan rumah untuk ayah dan ibunya, yang indah lagi lengkap perabotannya dan Fir’aun harus menjamin kesehatan, makan, minum kedua orangtuanya.
Siti Aisyah bersedia menjadi isteri Fir’aun. Hadir dalam acara-acara tertentu, tapi tak bersedia tidur bersama Fir’aun. Sekiranya permintaan-permintaan tersebut tidak disetujui, Siti Asiah rela mati dibunuh bersama ibu dan bapaknya.
Akhirnya Fir’aun menyetujui syarat-syarat yang diajukan Siti Asiah. Fir’aun lalu memerintahkan agar rantai belenggu yang ada di kaki dan tangan orangtua Siti Asiah dibuka. Singkat cerita, Siti Asiah tinggal dalam kemewahan Istana bersama-sama Fir’aun. Namun ia tetap tak mau berbuat ingkar terhadap perintah agama, dengan tetap melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.
Pada malam hari Siti Asiah selalu mengerjakan shalat dan memohon pertolongan Allah SWT. Ia senantiasa berdoa agar kehormatannya tidak disentuh oleh orang kafir, meskipun suaminya sendiri, Fir’aun.
Untuk menjaga kehormatan Siti Asiah, Allah SWT telah menciptakan iblis yang menyaru sebagai Siti Asiah. Dialah iblis yang setiap malam tidur dan bergaul dengan Fir’aun.
Fir’aun mempunyai seorang pegawai yang amat dipercaya bernama Hazaqil. Hazaqil amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Beliau adalah suami Siti Masyitoh, yang bekerja sebagai juru hias istana, yang juga amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Namun demikian, dengan suatu upaya yang hati-hati, mereka berhasil merahasiakan ketaatan mereka terhadap Allah. Dari pengamatan Fir’aun yang kafir.
Suatu kali, terjadi perdebatan hebat antara Fir’aun dengan Hazaqil, disaat Fir’aun menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang ahli sihir, yang menyatakan keimanannya atas ajaran Nabi Musa a.s. Hazaqil menentang keras hukuman tersebut. Mendengar penentangan Hazaqil, Fir’aun menjadi marah. Fir’aun jadi bisa mengetahui siapa sebenarnya Hazaqil. Fir’aun lalu menjatuhkan hukuman mati kepada Hazaqil. Hazaqil menerimanya dengan tabah, tanpa merasa gentar sebab yakin dirinya benar.
Hazaqil menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tangan terikat pada pohon kurma, dengan tubuh penuh ditembusi anak panah. Sang istri, Masyitoh, teramat sedih atas kematian suami yang amat disayanginya itu. Ia senantiasa dirundung kesedihan setelah itu, dan tiada lagi tempat mengadu kecuali kepada anak-anaknya yang masih kecil.
Suatu hari, Masyitoh mengadukan nasibnya kepada Siti Asiah. Diakhir pembicaraan mereka, Siti Asiah menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya, bahwa iapun menyembunyikan ketaatannya dari Fir’aun. Barulah keduanya menyadari, bahwa mereka sama-sama beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa a.s.
Pada suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut puteri Fir’aun, tanpa sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Tak sengaja pula, saat memungutnya Masyitoh berkata, “Dengan nama Allah binasalah Fir’aun.”
Mendengarkan ucapan Masyitoh, Puteri Fir’aun merasa tersinggung lalu mengancam akan melaporkan kepada ayahandanya. Tak sedikitpun Masyitoh merasa gentar mendengar hardikan puteri. Sehingga akhirnya, ia dipanggil juga oleh Fir’aun.
Saat Masyitoh menghadap Fir’aun, pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya adalah, “Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata penghinaan terhadapku, sebagaimana penuturan anakku. Dan siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini?”
“Betul, Baginda Raja yang lalim. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai segala alam dan isinya.”jawab Masyitoh dengan berani.
Mendengar jawaban Masyitoh, Fir’aun menjadi teramat marah, sehingga memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak sekuali besar. Dan saat minyak itu mendidih, pengawal kerajaan memanggil orang ramai untuk menyaksikan hukuman yang telah dijatuhkan pada Masyitah. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan dipersilahkan untuk memilih, jika ingin selamat bersama kedua anaknya, Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku bahwa Fir’aun adalah Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap tak mau mengakui Fir’aun sebagai Tuhannya, Masyitoh akan dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama kedua anak-anaknya.
Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitoh kemudian membawa kedua anaknya menuju ke atas kuali tersebut. Ia sempat ragu ketika memandang anaknya yang berada dalam pelukan, tengah asyik menyusu. Karena takdir Tuhan, anak yang masih kecil itu dapat berkata, “Jangan takut dan sangsi, wahai Ibuku. Karena kematian kita akan mendapat ganjaran dari Allah SWT. Dan pintu surga akan terbuka menanti kedatangan kita.”
Masyitoh dan anak-anaknyapun terjun ke dalam kuali berisikan minyak mendidih itu. Tanpa tangis, tanpa takut dan tak keluar jeritan dari mulutnya. Saat itupun terjadi keanehan. Tiba-tiba, tercium wangi semerbak harum dari kuali berisi minyak mendidih itu.
Siti Asiah yang menyaksikan kejadian itu, melaknat Fir’aun dengan kata-kata yang pedas. Iapun menyatakan tak sudi lagi diperisteri oleh Fir’aun, dan lebih memilih keadaan mati seperti Masyitoh.
Mendengar ucapan Isterinya, Fir’aun menjadi marah dan menganggap bahwa Siti Asiah telah gila. Fir’aun kemudian menyiksa Siti Asiah, tak memberikan makan dan minum, sehingga Siti Asiah meninggal dunia.
Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Siti Asiah sempat berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya, “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi_mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim [66] : 11)
Demikian kisah Siti Asiah dan Masyitoh. Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam “Tauhid.”
Oleh : Rasyan Ridha
Leer completo...

Dugaan Datang Bersama Hikmah



DUGAAN dalam kehidupan manusia sering bertali arus dalam kehidupan. Kerana nilai dugaan yang cukup besar harganya, manusia perlu menghadapinya dengan sepenuh kekuatan yang diberikan Allah dalam jiwa melalui kekuatan iman dan akal fikiran.

Hari ini, tragedi demi tragedi berlaku dalam sejarah manusia memerlukan nilai kesabaran yang tinggi untuk melaluinya.

Bukan semudah kata-kata, ia umpama hempedu yang perlu ditelan walau pahit rasanya.
Malaysia mengalami sejarah hitamnya dalam tragedi bencana alam yang terburuk dan pertama kali berlaku sehinggakan mengorbankan puluhan nyawa yang tersayang.

Di negara-negara dunia seperti Sri Lanka, Thailand, Sumatera kedengaran ratapan yang mengiringi kematian di luar jangkauan manusia.

Umat Islam dalam berhadapan dengan bencana sebegini, perlu bersedia bukan sahaja daripada keperluan fizikalnya tetapi minda dan hati yang teguh dengan keimanan terhadap Allah.

Ujian yang diturunkan Allah sememangnya cukup berat, jika ia diterima dengan keredhaan, akan hadir sedikit ketenangan dalam kehidupan.

Allah meletakkan kepentingan sabar sebagai asas dalam menghadapi ujian dan malapetaka.

Firman-Nya disebutkan, Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang, dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk. (Al-Baqarah: 45)
Ujian membuktikan kekuatan manusia dalam berhadapan dengan keadaan tersebut. Malah tingkat ujian berbeza menurut kemampuan seseorang.

Ujian hadir dalam pelbagai bentuk, kehendak hati terhadap sesuatu yang dilarang, konflik antara individu yang akrab dalam keluarga, halangan-halangan dakwah, penderitaan, kemiskinan dan kekayaan, kejadian-kejadian di luar jangkauan kecil mahupun besar adalah antara ujian yang sering dihadapi.

Malah ujian dan dugaan sering membawa bersama manusia dengan dua pilihan, bagaimana seseorang menghadapinya.

Adakah dengan menyalahkan takdir atas kejadian buruk yang menimpa sehingga Tuhan turut dipersoalkan atau menerimanya sebagai satu musibah yang mengingatkan diri tentang kebesaran-Nya dan yakin dengan hikmah-Nya.

Ke manakah motivasi tindakan kita dijanakan, sama ada antara yang membunuh keyakinan atau ke arah yang mengukuhkan diri menghadapi cabaran, ia adalah pilihan yang diberikan Allah.

Melalui dugaan inilah, terpamer sikap seorang bergelar Muslim, dalam kelompok mana seseorang itu berada kini. Boleh jadi dalam kelompok Muslim yang benar-benar ikhlas beriman kepada Allah atau sebaliknya. Firman Allah, surah al-Baqarah ayat 155:

Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasai) kelaparan dan (dengan berlakunya) kekurangan daripada harta benda dan jiwa serta hasil tanaman, dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar.
Seorang yang beriman, perlu menghadapi setiap dugaan dan cabaran dengan nilai-nilai positif sebagai usaha mengimbangi kehidupan yang sedia agar sentiasa lurus di jalan-Nya.

Ia tidak boleh dijadikan alasan untuk membelakangi suruhan-Nya dengan andaian-andaian palsu kononnya Tuhan tidak menyayanginya lagi sehingga gelap masa depannya.

Kesabaran dalam menghadapi dugaan datang bersama tindakan daripada diri sendiri dan secara kolektif melalui bantuan yang termampu.

Nilai kehidupan berjemaah dalam masyarakat Islam dapat ditingkatkan dengan pertolongan yang diberikan, yang secara langsung mengikat nilai ukhuwah dan pertautan jiwa atas nama persaudaraan Islam.

Dugaan datang bersama hikmah. Ia memerlukan masa untuk manusia memperhalusi sebab dan punca sesuatu perkara.

Umpamanya konflik antara Gerakan Acheh Merdeka (GAM) dan Tentera Nasional Indonesia (TNI) di bawah kerajaannya hari ini bersedia berdamai atas nama kemanusiaan dan bergandingan membantu mangsa-mangsa yang terkorban.

Jika dilihat dengan mata kasar manusia biasa, ia mungkin tidak membawa erti. Tetapi buat pencinta keamanan dan kedamaian, konflik yang dihentikan seketika ini membuktikan akan berlaku keharmonian antara dua pihak walau ada yang pesimis mengenainya, cuma ia masih bermain dengan masa.

Manusia dalam situasi pertentangan kepentingan berhenti daripada bermain api permusuhan apabila musibah ini melanda.

Kepentingan terhadap majoriti melebihi kehendak diri, masing-masing perlu mengubah sikap buat seketika.

Ujian dan dugaan menjadikan diri sentiasa menghargai apa yang sudah dimiliki. Iamengingatkan manusia agar tidak cepat lupa dan sentiasa bersyukur dengan apa yang ada.
Seandainya waktu ini kita dikelilingi oleh insan bernama ibu, ayah, adik dan abang, bersama rakan-rakan yang baik, suasana yang sentosa, wajarlah kita menghargai melalui kesyukuran dan menggunakan peluang sebaik-baiknya untuk bersama dalam suasana positif yang sentiasa saling memaafkan. Ingatlah, seburuk mana pun insan-insan ini, mereka adalah darah daging kita.

Dalam masa yang sama bergeraklah dalam kelompok di kalangan rakan-rakan atau keluarga untuk sama-sama membantu mereka yang telah kehilangan dengan rasa simpati dan empati yang mendalam terhadap mereka. Kata orang, hari ini hari mereka, mungkin esok hari kita.

Nasihat sabar dalam keimanan adalah kata-kata terbaik yang perlu diungkapkan dengan mengingatkan mereka tentang perjalanan penuh cabaran manusia-manusia bergelar nabi dan rasul pilihan Allah, sebagaimana disebutkan dalam surah al-Asr ayat 1 hingga 4:

Demi masa. Sesungguhnya manusia di dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman, beramal soleh dan berpesan-pesan dengan kebenaran serta berwasiat dengan kesabaran.


Sumber: utusan Melayu, Bicara Agama
Leer completo...

KATA INDAH

Hari ini sebelum kita mengatakan kata- kata yang tidak baik,
Fikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berkata-kata sama sekali.

Sebelum kita mengeluh tentang rasa dari makanan,
Fikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa,
Fikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.

Sebelum kita mengeluh bahawa kita buruk,
Fikirkan tentang seseorang yang berada pada keadaan yang terburuk di dalam hidupnya.

Sebelum mengeluh tentang suami atau isteri anda,
Fikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.

Hari ini sebelum kita mengeluh tentang hidup,
Fikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.

Sebelum kita mengeluh tentang anak-anak kita,
Fikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.

Sebelum kita mengeluh tentang rumah yang kotor kerana pembantu tidak mengerjakan tugasnya,
Fikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.

Dan di saat kita letih dan mengeluh tentang pekerjaan,
Fikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti kita.

Sebelum kita menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahawa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.

Dan ketika kita sedang bersedih dan hidup dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahawa kita masih hidup !

Leer completo...

Kata-kata Hikmah Para Khalifah


Di bawah ini adalah kata-kata hikmah 4 Khalifah pertama dunia Islam. Kalau ingin berjaya di dunia dan akhirat, dengarlah nasihat mereka.

SAYYED ABU BAKAR RADHIALLAHU ANHU BERKATA:
Orang yang bakhil itu tidak akan terlepas daripada salah satu daripada 4 sifat yang membinasakan iaitu:
1. Ia akan mati dan hartanya akan diambil oleh warisnya, lalu dibelanjakan bukan pada tempatnya atau;
2. hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim atau;
3. hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat dan akan dipergunakan untuk kejahatan pula atau;
4. adakalanya harta itu akan dicuri dan dipergunakan secara berfoya-foya pada jalan yang tidak berguna

SAYYED UMAR AL-KHATTAB RADHIALLAHU ANHU BERKATA:
1. Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya
2. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina
3. Orang yang menyintai akhirat, dunia pasti menyertainya
4. Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga

SAYYED UTHMAN BIN AFFAN RADHIALLAHU ANHU BERKATA:
Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah:
1. Hatinya selalu berniat suci
2. Lidahnya selalu basah dengan zikrullah
3. Kedua matanya menangis kerana penyesalan (terhadap dosa)
4. Segala perkara dihadapinya dengan sabar dan tabah
5. Mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.

SAYYED ALI KARRAMALLAHU WAJHAH BERKATA:
1. Tiada solat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu’
2. Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia- sia
3. Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur’an tanpa mengambil pangajaran daripadanya
4. Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara’
5. Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi
6. Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki
7. Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan
8. Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya, siapa yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya, siapa yang hilang harga dirinya, bererti dia tidak wara’, sedang orang yang tidak wara’ itu bererti hatinya mati
Leer completo...

Teman seperjuangan..